Mempertanyakan Penghargaan Walikota Dewanti
Batu, 29 April
2019, Kemarin (25/04/2019) Pemerintah Kota Batu melalui walikota Dewanti
Rumpoko meraih penghargaan sebagai walikota terbaik. Penghargaan tersebut
dianugerahan oleh Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi Dan Komunikasi
Nasional (APTIKNAS) dan Asosiasi Pemerintah Kota seluruh Indonesia (APEKSI).
Namun MCW melihat bahwa terdapat beberapa kejanggalan indicator yang digunakan
untuk memperoleh hal tersebut.
Ketidakefektifan aplikasi Smart City
Berdasarkan
hasil monitoring MCW, semenjak diberlakukannya penggunaan aplikasi Smart City,
baik pada aplikasi Among tani, Among Warga dan Among Kota dari tanggal sejak
digunakannya pada tangga 24, april 2018
hingga hari ini jumlah masyarakat yang telah mendaftar rata-rata masih dibawah
angka 50 orang untuk setiap aplikasinya. Berikut adalah rinciannya.
Tabel jumlah pendaftar aplikasi Samrt City Kota Bayu.
|
No
|
Nama aplikasi
|
Jumlah user
|
|
1
|
Among Tani
|
37
|
|
2
|
Among Warga
|
21
|
|
3
|
Among Kota
|
33
|
Sumber :
Google Play
Fakta diatas mengkonfirmasi
bahwa, Aplikasi Smart city masih belum digunakan oleh masyarakat Kota Batu. Jumlah
pendaftar diatas jika ditotalkan maka baru mencapai 91 orang dari total
keseluruhan penduduk kota Batu adalah 202.319 jiwa. Selain itu,
efektifitas penggunaan dan bagaimana ketanggapan pemkot Batu manakala terdapat
persoalan “urgen” yang diadukan msyarakat untuk segera diatasi juga patut
dipertanyakan, apakah dengan menyampaikan aduan melalui aplikasi tersebut lalu
masalah selesai, atau jangan-jangan aplikasi tersebut hanya bersifat pasif
(menunggu aduan) sehingga mudah dikanalisasi untuk kepentingan pendataan yang
akan dikunakan sebagai ukuran keterbukaan informasi publiik?. Selain itu, yang
tidak kalah penting adalah dana yang dianggarkan untuk pengadaan proyek smart
City juga tidak sedikit, akan tetapi manfaatnya hingga hari belum dirasakan
oleh masyarakat Kota Batu. berikut adalah rinciannya.
|
No
|
pembiayaan Program smart City
|
2017
|
2018
|
|
1
|
Pengelolaan peralatan dan
pemeliharaan command center TI Smart City
|
10.2 M
|
1.3 M
|
|
2
|
Pengembangan jaringan &
aplikasi teknologi Informasi
|
5 M
|
410 Juta
|
Sumber:
APBD Kota Batu 2017-2018
B.
Kota Batu
Tidak Mempunyai Arah Pembangunan Yang Jelas
Berdasarkan surat balasan Pemkot Batu Nomor
188/709/422.104/2019, Pemkot batu masih sedang melaksanakan kegiatan kajian
strategis percepatan pembangunan desa menuju Desa Mandiri di Kota Batu sehingga
pemkot belum dapat memenuhi informasi yang dimaksud oleh MCW. Artinya, Pemkot
Batu tidak serius dalam mewujudkan Desa Berdaya selama kurang lebih 2 tahun
berjalan. Pemkot Batu tidak memiliki kejelasan konsep sebagai arah dan tujuan
pembangunan Desa. Jika, Pemkot Batu serius seharusnya sudah memiliki Grand
Design ataupun skema mewujudkan visi Desa Berdaya. Disisi lain, MCW pernah mewawancarai
salahsatu Kepala Desa di Kota Batu mengatakan bahwa Pemkot Batu tidak pernah
melibatkan desa dalam perencanaan sekaligus mewujudkan “Desa Berdaya Kota
Berjaya”. Padahal untuk visi-misi perlu sinergi antara kota dengan desa. Oleh
sebab itu tidak mengherankan Selama pemerintahan Dewanti keberpihakan Kota atas
Desa dalam membangun potensi masih belum
nampak.
Pendapatan
Asli Daerah Naik Tidak Signifikan
|
No
|
Uraian
|
APBD 2018
|
APBD 2019
|
Baertambah/ (Berkurang)
|
|
|
(Rp.)
|
|||||
|
1
|
2
|
4
|
5
|
6
|
|
|
I
|
PENDAPATAN
|
Rp 935,1 M
|
Rp. 983,7 M
|
Rp.
48,5
M
|
|
|
I.a
|
PENDAPATAN ASLI DAERAH
|
Rp
143,5 M
|
Rp.
153,3 M
|
Rp.
9,8 M
|
|
|
I.b
|
DANA PERIMBANGAN
|
Rp
633 M
|
Rp.
695,5 M
|
Rp.
59,5 M
|
|
|
I.c
|
LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH
|
Rp
155,6 M
|
Rp. 134,8 M
|
Berkurang
(-20,8 M
|
|
Sumber :
APBD Kota Batu 2018 - 2019 yang diolah MCW
Dalam
pembangunan, Kota Batu memiliki potensi yang sangat besar dalam sector
Pendapatan asli daerah(PAD) terutama pajak dan retribusi daerah, Namun, PAD
Kota Batu hanya menyumbang (Rp. 153 M) 4x jauh lebih kecil dibandingkan dana
perimbangan (Rp.695 M) yang setiap tahun naik angkanya. Kondisi diatas tentu
sangat memprihatinkan mengingat
Kota Batu menerima angka kunjungan wisatawan sebanyak 5.6 juta sepanjang
tahun 2018[1]. Disisi lain,
Tampak bahwa banyak industri pariwisata dibangun di Kota Batu diantaranya wisata
buatan, hotel, vila, homestay, karaoke, hiburan dan sebagainya secara jelas
mendatangkan manfaat terhadap PAD Kota
batu, Namun. jika dilihat PAD yang diperoleh tidak sebanding dengan keseluruhan
potensi daerah yang dimiliki. Hal ini disebabkan tata kelola pajak dan
retribusi yang buruk dikarenakan banyaknya piutang yang tidak terbayarkan
misalnya Pajak Hiburan, Pajak PBB, dan Retribusi lainnya. Hal tersebut
menyebabkan potensi daerah terjadi kebocoran atau tidak tersalurnya ke
pemerintahan daerah. Jika, ada ketegasan dan inovasi pemerintah untuk
memaksimalkan potensi pajak dan retribusi. Maka, tidak mungkin Kota batu
mengalami PAD yang kecil dibandingkan dana perimbangannya. Disisi lain, pemkot
Batu diduga tidak pernah melakukan kajian mendalam potensi pendapatan daerah
baik melalui sector pajak maupun retribusi sehingga tidak ada perubahan yang
signifikan untuk menggali potensi daerah.

Comments
Post a Comment