KAPITALISME BERCOKONG DI KOTA BATU





Kita ketahui, Kekuatan esensial yang konkret sejak orde baru hingga reformasi ialah kapital. Keadaan tidak berubah walaupun dengan tumbangnya orde baru keadaan tidak menjadi sosialisme komunisme yang dianut orde lama. Sehingga bisa dikatakan selama Soeharto sebagai penguasa orde baru menyebabkan kekuatan sosialisme yang dipimpin soekarno habis total hingga saat ini. Pasca Reformasi mulai berlaku Undang-Undang Otonomi Daerah. Salahsatu esensinya adalah daerah berhak mengatur potensi dan pemerintahannya secara masing – masing. Akan tetapi, dengan hadirnya kekuatan capital yang masih bercokong, daerah kini sebagai lahan basah kapitalis untuk memanen segala potensi keuntungannya. Konsekuensinya, Apabila kita lihat dahulu oligarki sultanistik Soeharto kini sifatnya ialah oligarki kolektif dan oligarki civil yang menyebar ke setiap daerah. Hal tersebut pun terlihat jelas salahsatunya di Kota Batu.

Tidak banyak studi yang memusatkan diri, secara langsung maupun tidak langsung mengenai perkembangan capital di Kota Batu. Bagaimana peran penguasa capital daerah (Oligark) dalam perumusan kebijakan yang pro terhadap usahanya. Hal ini disebabkan analisis sekaligus kerangka yang dianut para akademisi hanya sebatas peran elite ke dalam analisis yang penting. Para akademisi hanya melihat bahwasanya perubahan dari orde baru ke reformasi melalui otonomi daerah, pemerintah berperan penting dalam mengurus daerah sendirinya. Padahal didalam kekuatam kekuatan politik dalam hal perumusan kebijakan, banyak non pemerintah yang bergulat mewakili kepentingan setiap individu salahsatunya ialah oligarki.

Terdapat gambaran umum yang jelas dalam proses perkembangan kapitalisme di Kota Batu. Ukuran kategori analisis perkembangan capital bersifat normative mengingat yang ditawarkan oleh Jefrey Winters adalah sekelompok orang yang memimpin bertujuan pelipatan harta kekayaan. Bentuk kapitalisme yang terjadi didorong oleh beberapa factor yang konkret, termasuk didalamna keadaan struktur social, dampak kapitalisme serta ekonominya, hancurnya kelas bawah, sifat pertentangan politik dalam masa sebelum dan sesudah kapitalisme, hubungan elite dengan ekonomi pusat serta besarnya kekayaan dan potensi alamnya.

Salahsatu factor yang terbukti sangat menentukan dalam merumuskan system ekonomi kapitalis adalah design ekonomi dan politik dengan munculnya oligarki. Pembangunan Wisata Buatan misalnya, merupakan akibat proses revolusi kapitalis dibawah pimpinan oligarki. Sosialisme serta berbagai bentuk kekuatan elite Kota Batu yang berasal dari pertanian jatuh tersungkur. Implikasi ialah runtuhnya kelas kapitalis domestik secara langsung. Umumnya borjuasi menjual tanahnya dikarenakan Negara tidak lagi mempertahankannya. Sehingga secara penuh kekuasaan politik dipegang oleh oligarki didalam setiap pengambilan keputusan. Salahsatu pertanyaan yang menarik adalah dengan perubahan politik dan social di Kota Batu apakah masyarakat agraris yang dipimpin oleh elite berani mempertahankan model agraris yang kekal?. Apakah mereka bakal menyerah terhadap keadaan ini menjual ke kapitalisme atau mereka membentuk model baru percampuran antara masyarakat agraris sosialis dan industry kapitalis?

Bagi saya memandang kelas sebagai sesuatu sangatlah penting, Kelas kapitalis hanyalah berpandangan bahwa pelipatan harta kekayaan adalah tujuan utama. Tidak penting mempedulikan kesejahteraan masyarakat, distribusi kekayaan dan tanggungjawab social perusahaan kecuali untuk memperbaiki citra pasca adanya tindakan penyimpangan yang dilakukan oleh perusahaan. Pertama, Kebanyakan masyarakat akan berkomentar bahwasanya kemunculan perusahaan berdampak positif kepada masyarakat sekitar. Misalnya mengenai para pedagang yang laris berjualan dan hasil pertanian yang bisa dititipkan ke dalam perusahaan. Suatu kelas bawah akan berharap lebih mengenai itu walaupun faktanya hanya sementara atau sama sekali tidak ada.

Kedua, Perihal munculnya kapitalis yang dinilai cukup berarti dalam hal peningkatan pajak dan/atau retribusi daerah. Kekuatan oligarki memunculkan pengusaha – pengusaha lain untuk mendukung usahanya. Akan tetapi, kekuatan poltik dan ekonomi membutuhkan waktu untuk pengonsolidasian dalam hal mengosongkan kekuatan elite sebelumnya. Pastinya, kekuatan politik akan bertarung keras dalam hal perebutan sumber daya public terutama mengenai penguasaan aset.

Ketiga, berlanjutnya dominasi politik ekonomi pihak oligarki memberikan kepercayaan lebih kepada partai bahwasanya oligarki telah menguasai rezim layaknya kerajaan ini, Tanpa adanya oposisi yang mampu melawan dan mengabungkan kekuataan sehingga oligarki mendapatkan kekuatan absolut. Civil society membayangkan bahwa bagaimana melampaui suatu kelas kapitalis yang memiliki keuatan absolut? Teka teki ini mendorong para analisis poltik sampai pada hal mendasar mengennai bentuk pemerintahan ideal hingga penawaran revolusi sosialis yang ditawarkan kaum marhaenis.

Pengetahuan radikat tentang Kapitalis, Oligark, hingga Sosialis sangat diperlukan untuk menawarkan sebuah pilihan alternative. Teori oligarki menawarkan bahwasanya tidak ada pilihan lain bagi kaum proletak wajib melakukan revolusi, Revolusi ini ditawarkan baik melalui kekuataan masyarakat sosialis, Revolusi borjuis atau pertarungan sesama oligarki. Apabila revolusi tidak segera dilakukan kelas proletar dan borjuis akan menjadi jongos atau babu disetiap kebijakan. Dengan demikian, keduanya tidak lagi diperhitungkan sebagai anggota kelas atau bagian dari hubungan antara Negara dan Kapital.

Bayu Agung Prasetya - Divisi Korupsi Politik dan Oligarki

Comments

Popular posts from this blog

Pendahuluan Bab 2

Batu Town Spatial Policy

INFRASTRUCTURE DEVELOPMENT IN INDONESIAN : FOR CAPITALIST OR THE PEOPLE ?